Perilaku hewan
Insting, belajar, komunikasi, dan kehidupan sosial hewan.
Jenjang yang disarankan: SD, SMP, SMA, kuliah.
Penjelasan untuk SD
Perilaku adalah apa yang dilakukan hewan: mencari makan, bersembunyi, membuat sarang, memanggil teman, atau merawat anaknya.
Ada perilaku yang sudah bisa sejak lahir tanpa diajari. Anak penyu yang baru menetas langsung merangkak menuju laut. Laba-laba bisa membuat jaring walau tidak pernah diajari induknya.
Ada juga perilaku yang dipelajari. Kucing belajar datang ketika mendengar bunyi kantong makanannya. Orangutan muda belajar dari induknya cara memakai ranting untuk mengambil makanan.
Hewan juga berkomunikasi:
- Lebah madu menari untuk memberi tahu teman letak bunga.
- Semut meninggalkan jejak bau agar teman-temannya bisa mengikuti jalan menuju makanan.
- Burung cenderawasih jantan menari dan memamerkan bulunya untuk menarik betina.
Saat mengamati hewan, jagalah jarak, jangan mengganggu, dan jangan memberi makan hewan liar.
Poin kunci
- Ada perilaku bawaan sejak lahir dan ada perilaku yang dipelajari.
- Hewan berkomunikasi dengan tarian, suara, bau, dan warna.
- Amati hewan tanpa mengganggu dan jangan memberi makan hewan liar.
Aktivitas
Amati semut di halaman selama 10 menit. Letakkan sedikit gula di dekat sarangnya dan catat berapa lama sampai semut datang dan bagaimana mereka berjalan beriringan.
Penjelasan untuk SMP
Perilaku adalah tanggapan hewan terhadap rangsang dari luar atau dalam tubuhnya. Perilaku dibagi dua:
1. Perilaku bawaan (insting) – dilakukan dengan benar sejak pertama kali tanpa belajar:
- Refleks: tanggapan cepat dan otomatis, misalnya menarik tangan dari benda panas.
- Taksis: bergerak menuju atau menjauhi rangsang, misalnya ngengat terbang ke arah cahaya lampu.
- Pola aksi tetap: rangkaian gerakan yang sekali dimulai akan diselesaikan, misalnya burung membangun sarang atau laba-laba menganyam jaring.
2. Perilaku belajar – berubah karena pengalaman:
- Habituasi: berhenti menanggapi rangsang yang terus berulang dan tidak berbahaya, misalnya burung di sawah yang tidak lagi takut pada orang-orangan sawah.
- Imprinting: anak itik atau ayam mengikuti benda bergerak pertama yang dilihatnya setelah menetas, biasanya induknya.
- Pengkondisian: menghubungkan dua kejadian. Anjing percobaan Pavlov mengeluarkan air liur saat mendengar bunyi yang biasa terdengar sebelum makan.
- Coba-coba: mengulangi tindakan yang memberi hasil baik.
- Belajar sosial: meniru hewan lain, misalnya orangutan muda meniru induknya.
Komunikasi dapat berupa suara (kicau burung), gerakan (tarian lebah), warna dan tarian (cenderawasih), serta zat kimia atau feromon (jejak semut). Perilaku sosial meliputi hidup berkelompok, membagi tugas (semut dan lebah), menjaga wilayah (teritorial), dan merawat anak.
Poin kunci
- Bawaan: refleks, taksis, pola aksi tetap.
- Belajar: habituasi, imprinting, pengkondisian, coba-coba, belajar sosial.
- Komunikasi: suara, gerakan, warna, feromon.
Aktivitas
Buat etogram sederhana: amati seekor hewan (ayam, kucing, burung gereja, atau ikan akuarium) selama 20 menit, catat setiap perilaku setiap 30 detik, lalu hitung persentase waktu untuk makan, bergerak, beristirahat, dan berinteraksi.
Penjelasan untuk SMA
Etolog Niko Tinbergen mengusulkan empat pertanyaan untuk memahami perilaku: bagaimana mekanismenya (saraf dan hormon), bagaimana perilaku itu berkembang selama hidup individu, apa fungsinya bagi kelangsungan hidup dan reproduksi, serta bagaimana perilaku itu berevolusi. Dua yang pertama disebut sebab proksimat, dua yang terakhir sebab ultimat. Tinbergen, Konrad Lorenz, dan Karl von Frisch menerima Hadiah Nobel 1973.
Contoh yang dijelaskan dengan empat pertanyaan:
- Tarian goyang lebah madu: sudut goyangan terhadap arah vertikal di sarang menunjukkan arah sumber makanan terhadap matahari, dan lama goyangan menunjukkan jarak. Tarian ini membantu koloni mengumpulkan nektar lebih efisien.
- Kembali ke pantai kelahiran: penyu hijau betina kembali bertelur di wilayah pantai tempat ia menetas, dengan memanfaatkan medan magnet bumi untuk navigasi.
- Budaya pada orangutan: populasi orangutan Sumatra di rawa Suaq Balimbing memakai alat dari ranting untuk mengambil biji dan serangga, sedangkan populasi lain tidak. Perbedaan kebiasaan yang diturunkan melalui belajar sosial seperti ini disebut budaya hewan.
Perilaku sosial dan altruisme: hewan kadang menolong individu lain dengan mengorbankan dirinya. Teori seleksi kerabat menjelaskan bahwa menolong kerabat tetap dapat menyebarkan gen yang sama (aturan Hamilton: rB > C). Altruisme timbal balik terjadi bila pertolongan dibalas di kemudian hari.
Perilaku kawin: pilihan pasangan oleh betina dan persaingan antarjantan menghasilkan tarian, nyanyian, dan ornamen, seperti pada cenderawasih. Maleo bertelur secara komunal di pasir yang dihangatkan panas bumi, sehingga lokasi bertelur sangat penting dilindungi.
Poin kunci
- Empat pertanyaan Tinbergen: mekanisme, perkembangan, fungsi, evolusi.
- Tarian goyang lebah: sudut = arah, lama goyangan = jarak.
- Seleksi kerabat (rB > C) dan altruisme timbal balik menjelaskan perilaku menolong.
Aktivitas
Rancang percobaan taksis dengan kutu kayu atau larva serangga: siapkan wadah dengan sisi terang dan gelap atau sisi lembap dan kering. Hitung sebaran hewan setelah 10 menit, ulangi tiga kali, dan jelaskan hasilnya dengan empat pertanyaan Tinbergen.
Penjelasan untuk kuliah
Ekologi perilaku menganalisis perilaku sebagai strategi yang dibentuk seleksi alam. Beberapa kerangka utamanya:
- Teori mencari makan optimal: hewan memilih mangsa dan lama berburu di satu tempat untuk memaksimalkan perolehan energi per waktu; teorema nilai marginal memperkirakan kapan hewan pindah ke tempat baru.
- Teori permainan evolusioner: strategi stabil secara evolusi (ESS), misalnya permainan elang–merpati, menjelaskan mengapa perilaku agresif dan damai dapat bertahan bersama dalam populasi.
- Sinyal: agar tetap dapat dipercaya, sinyal harus mahal atau sulit dipalsukan (prinsip handicap), atau kepentingan pengirim dan penerima harus sejalan.
Pada tingkat mekanisme, neuroetologi menghubungkan perilaku dengan rangkaian saraf dan hormon. Contohnya jam sirkadian yang dikendalikan gen period dan timeless (Nobel 2017), serta peran oksitosin dan vasopresin dalam ikatan sosial pada tikus padang rumput. Genom dan lingkungan berinteraksi: perilaku yang “diwariskan” masih dapat diubah oleh pengalaman awal dan kondisi hormonal.
Isu terapan meliputi dampak cahaya buatan pada malam hari (tukik penyu dapat tersesat menjauhi laut, serangga terperangkap di lampu), kebisingan terhadap komunikasi burung dan mamalia laut, serta habituasi satwa liar terhadap manusia yang dapat meningkatkan konflik. Metode pengamatan perilaku yang etis, seperti pengambilan sampel fokal dan pemindaian, serta penggunaan perangkap kamera, membantu mengumpulkan data tanpa mengganggu satwa.
Poin kunci
- Mencari makan optimal, teori permainan (ESS), dan teori sinyal.
- Neuroetologi: jam sirkadian, hormon, dan ikatan sosial.
- Cahaya malam dan kebisingan mengganggu perilaku satwa.
Aktivitas
Susun protokol pengamatan perilaku satwa liar di lapangan (misalnya burung di taman kota) dengan metode sampel fokal dan pemindaian. Sertakan pertimbangan etika, kalibrasi antarpengamat, dan cara mengurangi gangguan.
Spesies contoh
- Lebah madu Asia (Apis cerana)
- Semut rangrang (Oecophylla smaragdina)
- Cenderawasih kuning-besar (Paradisaea apoda)
- Maleo (Macrocephalon maleo)
- Penyu hijau (Chelonia mydas)
- Orangutan Sumatra (Pongo abelii)
- Ayam hutan merah (Gallus gallus)
- Anjing (Canis familiaris)
- Gurita siang (Octopus cyanea)
- Kupu-kupu raja (Danaus plexippus)
- Laba-laba kayu raksasa (Nephila pilipes)